KONSUMSI ZAMAN
Dulu, aku merasa... Aku punya cerita.
Makaroni bagiku makanan paling lezat.
Sekarang, setelah tersadar... Ceritaku bukan tentang aku sendiri lagi.
Gelombang di polisi tidur menghenyakkan perjalananku.
Yang aku tau, saat ini aku tanpa siapa.
Seorang, sahabat seolah punya tempat lebih baik untuk berbagi.
Dulu, aku merasa... Buku dan balpoin dapat menulis sejarah setiap peradaban manusia.
Nyatanya, lebih dari itu... Dunia telah berkembang.
Tapi, saat kulihat mama menyuntik pengembang adonan kue,
saat itu aku tersadar lagi, jika mama terus menyuntik, kue itu akan meledak,
tak menjadi lagi.
Puisi kesendirian tidak lagi menyatu.
Kecuali pada hati-hati yang kental akan peradaban lama.
Seperti makhluk asing yang kembali ke bumi.
Tanah sudah tidak telanjang lagi.
Seluruhnya dilapisi zat tebal yang permanen.
Menutup atmosfer?
Saat yang kulihat semua penuh hingar bingar.
Manusia normal baru tahu ia terserang autist.
Di usia seperempat abad.
Ceritaku bukan tentang aku lagi.
Satu manusia yang kulihat memiliki seribu cerita dalam sehari.
Dalam satu jam ia berubah.
Dalam satu hari ia menjelajahi seluk bumi.
Seakan tahu segalanya.
Padahal, kambing mati di sebelah rumahnya pun, ia tak tahu...
Sana-sini cerita-cerita baru lagi.
Apa aku terlalu takut menghadapi kenyataan?
Bahwasanya hidup di bawah pohon mahoni dengan jaring hitam di rantingnya lebih mengesankan dari cerita-cerita sana- sini.
Bahwasanya, hingar bingar yang aku kupas sendiri membuatku lelah sendiri, padahal tidak ada yang meminta.
Lalu, untuk apa ada lahan free untuk cerita-cerita sesukanya?
Bahwasanya, cerita lalu seolah memanggilku dan aku tidak dapat kembali.
Cerita nenek yang sudah tiada, kehangatan seorang kakak yang pengertian, tangisan adik-adik kecil yang 'bawel'.
Ibu dengan nampan kue, ayah dengan jala penangkap ikan.
Seharusnya, seandainya, di otakku hanya dengan ceritaku sendiri.
Tapi, hingar bingar itu, sulit sekali.
Dielakkan.
Termakan konsumsi zaman.
'Panci' yang meminta keadilan.
'Agama' yang dibelitkan.
'Teror' yang membingungkan.
Wahai, teman! Kemana kita istirahat nanti?
Kopi rasa keju di kafe itu sepertinya nikmat?!
April, 2017
